Kampung Binaan Pertamina Lubricants Dorong Ekonomi Sirkuler dengan Dampak Ekonomi 200 Juta Per Tahun

Lingkungan di Gang Hijau Cemara RW 01, Kecamatan Koja, Jakarta Utara kini telah mengalami transformasi yang signifikan. Tidak hanya menjadi lebih hijau, tetapi pengelolaan sampah juga diperbaiki dengan efektif. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai masalah, kini diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.
Dani Arwanto, Ketua Kelompok Pengelola Gang Hijau Cemara, menjelaskan bahwa dukungan dari Pertamina Lubricants telah berperan penting dalam memastikan keberlanjutan berbagai inisiatif masyarakat yang telah dimulai sejak tahun 2013.
“Sejak tahun 2022 hingga sekarang, program-program yang ada di komunitas kami terus berkembang dan semakin aktif,” ungkap Dani.
Tidak hanya fokus pada kebersihan lingkungan, masyarakat juga meluncurkan berbagai program ketahanan pangan, peternakan, perikanan, budidaya anggur, hidroponik, bahkan pendidikan dan layanan kesehatan melalui Posbindu.
Dalam hal pengelolaan lingkungan, masyarakat telah mengembangkan metode pengolahan sampah organik, seperti budidaya maggot, pembuatan pakan ternak dan ikan, serta konversi sampah menjadi pelet biomassa. Inisiatif ini merupakan bagian dari usaha untuk menciptakan sistem manajemen sampah yang terintegrasi sekaligus menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang tinggi.
Konsep yang sama diterapkan dalam sektor pendidikan melalui Green PAUD Cemara. Program pendidikan gratis ini telah berjalan selama tujuh angkatan, di mana orang tua siswa tidak membayar biaya sekolah dengan uang, melainkan dengan menyetorkan dua kilogram sampah setiap bulan.
“Bukan hanya anak-anak yang mendapatkan pendidikan, tetapi juga para orang tua diberikan edukasi untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengeluarkan uang, tetapi juga bisa memanfaatkan hasil dari pengelolaan sampah yang kami lakukan,” jelas Dani.
Pengelolaan bank sampah telah terhubung dengan kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang melibatkan masyarakat dalam mengolah hasil pengelolaan sampah menjadi produk-produk yang beragam. Dengan cara ini, sampah tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber daya yang memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat.
Dani menekankan bahwa berbagai aktivitas di Gang Hijau Cemara telah berkembang dari sekadar program menjadi kebutuhan yang krusial bagi masyarakat. Ke depan, mereka berambisi untuk memperkuat konsep tersebut menjadi ekonomi sirkular yang dapat mendukung keberlanjutan UMKM sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
“Kegiatan di Gang Hijau Cemara ini bukan sekadar program, tetapi telah menjadi kebutuhan masyarakat. Kami ingin membangun ekonomi sirkular yang berkelanjutan dan mendukung UMKM,” tutupnya.




