Tim Penyelam KM Virgo Hadapi Risiko Dekompresi karena Tekanan Laut yang Tinggi

Pencarian para korban kapal KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa terus berlangsung dengan melibatkan tim penyelam yang terlatih. Namun, dalam upaya tersebut, tim penyelam harus menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah tekanan laut yang tinggi.
Paparan terhadap tekanan yang ekstrem di kedalaman laut dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius, termasuk risiko dekompresi. Penyakit dekompresi ini terjadi ketika gas nitrogen yang terperangkap dalam tubuh membentuk gelembung akibat perubahan tekanan yang tiba-tiba. Gejala awalnya bisa berupa nyeri pada sendi, dan dalam kasus yang lebih parah, dapat menyebabkan kelumpuhan.
Sebagai langkah pencegahan, Lembaga Kesehatan Kelautan (Lakesla) TNI AL menyediakan terapi oksigen hiperbarik untuk para penyelam setelah mereka menyelesaikan misi penyelaman mereka.
“Selama lebih dari dua minggu, mereka telah menyelam dengan tekanan yang cukup berat. Oleh karena itu, mereka memerlukan perawatan terapi hiperbarik,” ungkap Mayor Laut (K), dr. Dony Irawan, seorang ahli hiperbarik dari Lakesla, dalam sebuah tayangan yang disiarkan oleh TVOne pada tanggal 28 September 2026.
Terapi oksigen hiperbarik ini dilakukan di dalam ruang hiperbarik dengan pengaturan dosis oksigen yang disesuaikan dengan kebutuhan medis masing-masing individu. Metode ini merupakan salah satu cara untuk memantau dan menjaga kesehatan tim penyelam yang terlibat dalam pencarian korban KM Virgo Transport 8.
“Tekanan di bawah laut sangat berbeda dengan tekanan di permukaan. Oleh sebab itu, mereka memerlukan penyegaran melalui terapi hiperbarik,” tambahnya.
Pada minggu tanggal 27 September 2026, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi dua jenazah dari kecelakaan kapal KM Virgo. Dengan penemuan ini, total jumlah korban yang ditemukan akibat kecelakaan tersebut kini mencapai 65 orang, sementara 70 orang lainnya masih dalam pencarian.
Hingga saat ini, DVI Bidokkes Polda Kalsel telah menerima 53 jenazah dari para korban. Dari total tersebut, sebanyak 25 jenazah telah berhasil diidentifikasi. Basarnas juga telah mengumumkan perpanjangan waktu operasi pencarian selama tujuh hari ke depan.




