otomotif

Mobil Listrik Terjangkau di Indonesia: Tantangan dan Peluang yang Harus Dihadapi

Harga mobil listrik di Indonesia semakin kompetitif, memberikan kesempatan bagi lebih banyak konsumen untuk mengakses kendaraan ramah lingkungan ini. Namun, di balik peluang yang ada untuk mempercepat proses elektrifikasi, pemerintah dihadapkan pada dilema antara membuka pintu untuk impor kendaraan listrik murah atau memberikan perlindungan yang lebih besar agar industri otomotif dalam negeri dapat berkembang dengan baik.

Isu ini menjadi sorotan utama dalam diskusi oleh Riyanto, seorang Peneliti Senior di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Dalam presentasinya, Riyanto menekankan pentingnya Indonesia menemukan keseimbangan antara transformasi industri, aksesibilitas harga bagi konsumen, serta daya saing sektor manufaktur nasional.

Memperluas kebijakan impor kendaraan listrik memiliki keuntungan bagi konsumen, karena dapat menurunkan harga dan meningkatkan variasi model yang tersedia. Akibatnya, proses adopsi mobil listrik di Indonesia dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Namun, kebijakan tersebut tidak tanpa risiko bagi industri lokal. Jika pertumbuhan penjualan mobil listrik banyak bergantung pada kendaraan impor utuh atau Completely Built Up (CBU), maka peningkatan permintaan tidak akan selalu diikuti dengan pertumbuhan produksi dan nilai tambah yang sebanding di dalam negeri.

Data yang tersedia menunjukkan adanya ketergantungan yang signifikan terhadap kendaraan listrik impor. Pangsa penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) yang berasal dari CBU meningkat pesat, dari 4 persen pada 2022 menjadi 64 persen pada periode Januari hingga Mei 2025. Sementara itu, sebagian besar kendaraan Internal Combustion Engine Vehicle (ICEV) dan Hybrid Electric Vehicle (HEV) telah diproduksi melalui skema Completely Knocked Down (CKD), Incomplete Knocked Down (IKD), atau produksi lokal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar mobil listrik menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, konsumen diuntungkan dengan pilihan yang lebih beragam dan harga yang lebih terjangkau. Namun, di sisi lain, industri nasional berisiko kehilangan manfaat ekonomi yang signifikan jika penjualan kendaraan tidak melibatkan produksi dan komponen lokal secara substansial.

Analisis dalam seminar juga menunjukkan bahwa pergeseran permintaan dari kendaraan bermesin pembakaran internal ke BEV, yang mayoritas dipenuhi oleh kendaraan CBU, dapat menyebabkan penurunan output industri otomotif Indonesia antara 0,36 persen hingga 6,19 persen.

Masalah ini muncul di saat pasar kendaraan listrik Indonesia sebenarnya telah memasuki fase pertumbuhan yang cukup substansial. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa pangsa BEV telah mencapai 15,97 persen pada periode Januari hingga Juni 2026, sementara total kendaraan elektrifikasi atau xEV telah mencapai 26,82 persen.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k