Pegawai Bergaji Rendah Memiliki Risiko Tinggi Meninggal Dini Menurut Studi Terbaru

Pekerja dengan gaji rendah menghadapi risiko kematian yang lebih tinggi, terutama jika mereka juga berada dalam situasi pekerjaan yang tidak stabil. Penemuan ini terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Medis Journal of the American Medical Association (JAMA) pada tahun 2023.
Studi yang dilakukan oleh Mailman School of Public Health Columbia University ini melibatkan pemantauan kesehatan dan pekerjaan dari 4.000 individu di Amerika Serikat selama periode 12 tahun. Data yang digunakan berasal dari Health and Retirement Study dari University of Michigan, yang dimulai pada tahun 1992 hingga 2018, dengan melibatkan peserta berusia minimal 50 tahun pada awal penelitian dan berusia 60-an pada akhir periode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja paruh baya dengan gaji rendah memiliki kemungkinan meninggal 38 persen lebih tinggi selama periode 12 tahun dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami gaji rendah. Risiko ini bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat bagi pekerja yang mengalami penghasilan rendah secara berkelanjutan dan memiliki pekerjaan yang tidak stabil atau sering berubah.
Menurut laporan dari CBS, hubungan antara status sosial ekonomi dan kesehatan telah dibuktikan dalam banyak penelitian sebelumnya. Namun, para penulis studi ini menekankan pentingnya melihat masalah ini dari perspektif upah. Mereka berpendapat bahwa upah mencerminkan aspek pendapatan serta jenis pekerjaan yang dijalani, yang keduanya dapat memengaruhi kesehatan individu dengan cara yang berbeda.
Pekerja bergaji rendah termasuk kelompok yang paling rentan di pasar tenaga kerja. Mereka cenderung lebih banyak terlibat dalam pekerjaan yang memiliki risiko paparan lebih tinggi terhadap bahaya, tingkat tekanan kerja yang tinggi, dan berbagai faktor lain yang dapat berdampak negatif pada kesehatan. Data penelitian menunjukkan bahwa individu yang secara konsisten menerima gaji rendah lebih mungkin melaporkan kondisi kesehatan yang buruk dibandingkan dengan rekan-rekan mereka. Selain itu, mereka lebih sering mengalami gejala depresi dan lebih banyak yang tidak memiliki akses ke asuransi kesehatan yang disediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.




