bisnis

Frans Seda: Menkeu yang Menghadapi Inflasi 650 Persen dan Krisis Keuangan Nasional

Bayangkan betapa menantangnya untuk mengelola keuangan suatu negara ketika inflasi melambung hingga 650 persen. Di saat yang sama, cadangan devisa semakin menipis, ekspor terhambat, dan utang luar negeri terus membengkak.

Inilah tantangan besar yang dihadapi Frans Seda ketika ia diangkat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 1966. Meskipun menjabat hanya selama dua tahun, masa kepemimpinannya menjadi salah satu babak penting dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Di tengah situasi yang penuh kesulitan tersebut, Frans Seda mengambil berbagai langkah strategis untuk merestrukturisasi keuangan negara dan memulihkan kredibilitas fiskal yang saat itu sangat dibutuhkan.

Enam puluh tahun kemudian, pengalaman yang dijalani Frans Seda kembali menjadi sorotan. Menteri Keuangan saat ini, Suahasil Nazara, mengungkapkan bahwa ada banyak pelajaran berharga dari kepemimpinan Frans Seda, khususnya mengenai keberanian dalam mengambil keputusan yang sulit dan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan fiskal.

Frans Seda dilahirkan di Lekebai, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 4 Oktober 1926. Ia menempuh pendidikan di Kolese Xaverius Muntilan dan HBS di Surabaya, sebelum melanjutkan studi di Katolieke Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, dengan fokus pada ekonomi.

Sebelum bergabung dengan Kementerian Keuangan, Frans Seda sudah memiliki pengalaman yang luas di dunia pemerintahan. Pada masa Presiden Soekarno, ia menjabat sebagai Menteri Perkebunan dan memegang berbagai posisi strategis lainnya.

Pada tahun 1966, Frans Seda ditugaskan sebagai Menteri Keuangan di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang sangat tertekan. Suahasil mencatat bahwa inflasi saat itu mencapai 650 persen, cadangan devisa hampir habis, ekspor terhambat, dan utang luar negeri berada dalam angka yang sangat besar.

Selama dua tahun kepemimpinannya, Frans Seda berhasil menurunkan inflasi secara bertahap hingga mencapai 85 persen pada tahun 1968. “Apa yang beliau lakukan adalah mengembalikan kredibilitas fiskal di tengah situasi yang penuh turbulensi,” ungkap Suahasil dalam pidatonya di salah satu universitas di Jakarta baru-baru ini.

Salah satu langkah signifikan yang diambil oleh Frans Seda adalah penerapan anggaran berimbang. Konsep ini menuntut agar belanja negara disesuaikan dengan kapasitas pemerintah dalam mengumpulkan penerimaan.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari konsolidasi fiskal, mengingat kondisi anggaran yang sangat tidak seimbang pada waktu itu. Suahasil menjelaskan bahwa belanja negara saat itu hampir tiga kali lipat dari total penerimaan yang berhasil dikumpulkan.

Related Articles

Back to top button
kpkgg