Syed Saddiq Mengungkap Tawaran Malaysia untuk Bantuan Pesawat dan Helikopter Atasi Karhutla

Anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq, memberikan tanggapan terkait pernyataan mantan Menteri Perdagangan Indonesia, M. Lutfi. Dalam video yang diunggahnya, Lutfi mengkritik narasi yang dianggapnya mengarah pada pemboikotan Indonesia, terutama dalam konteks penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, fokus seharusnya pada pertanggungjawaban perusahaan yang terlibat dalam kebakaran, bukan menggeneralisasi seluruh masyarakat Indonesia.
Sebagai respons, Syed Saddiq menyatakan dalam sebuah video di akun Instagram resminya bahwa perusahaan yang terbukti terlibat dalam pembakaran hutan harus dimintai pertanggungjawaban, tanpa memandang apakah perusahaan tersebut berasal dari Malaysia atau negara lain.
“Ini bukan soal Malaysia versus Indonesia. Meskipun bendera kita berbeda, kita semua merasakan dampak yang sama ketika udara tercemar. Jika ada perusahaan dari Malaysia atau Singapura yang bersalah, saya tidak akan membela mereka, asalkan ada bukti yang jelas untuk penegakan hukum,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia ini juga mengungkapkan bahwa Malaysia sebenarnya telah menawarkan bantuan untuk menangani masalah karhutla. Bantuan tersebut mencakup tiga unit pesawat, tiga helikopter, serta tenaga kerja untuk membantu memadamkan api. Sayangnya, tawaran ini hingga kini belum mendapatkan respon dari pemerintah Indonesia.
“Malaysia sudah menyampaikan tawaran bantuan berupa tiga pesawat, tiga helikopter, dan tenaga profesional. Namun, hingga saat ini, tidak ada tanggapan dari pihak berwenang di Indonesia. Ternyata, untuk memberikan bantuan saja tidak semudah yang dibayangkan,” katanya.
Syed Saddiq menekankan bahwa masalah karhutla dan kabut asap bukanlah konflik antara Malaysia dan Indonesia, melainkan isu pencemaran lingkungan yang berdampak pada masyarakat di kedua negara.
“Pada dasarnya, ini bukan tentang Malaysia melawan Indonesia. Ini adalah perjuangan untuk mendapatkan udara bersih bagi masyarakat yang terpengaruh oleh pencemaran. Ketika hutan dibakar demi kepentingan bisnis, asapnya justru mengganggu kehidupan masyarakat,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kabut asap akibat karhutla tidak mengenal batas negara dan dapat mempengaruhi masyarakat di kedua negara. Syed Saddiq mengajak semua pihak untuk mengutamakan keselamatan masyarakat dan tidak melindungi perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran hanya karena berasal dari negara yang sama.




