Iran Siap Tindak Tegas Israel Pasca Serangan di Lebanon, Ancaman Balas dengan Peluru

Jakarta – Amerika Serikat dan Iran masing-masing mengklaim sebagai pemenang pada Rabu lalu, setelah Israel dan kedua negara tersebut sepakat untuk memberlakukan gencatan senjata selama dua minggu. Namun, ketegangan segera meningkat kembali. Di tengah kesepakatan tersebut, militer Israel meluncurkan serangan ke berbagai area komersial dan pemukiman padat di pusat Beirut pada sore hari tanpa memberikan peringatan sebelumnya.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan bahwa serangan tersebut telah mengakibatkan sedikitnya 254 korban jiwa dan lebih dari 1.165 orang mengalami luka-luka pada hari yang sama.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyatakan bahwa situasi ini merupakan eskalasi serius setelah Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara di berbagai wilayah di Lebanon.
“Ambulans masih terus beroperasi untuk membawa korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk memberikan bantuan kepada sektor kesehatan di Lebanon,” kata Nassereddine dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, yang dikutip pada Kamis 9 April 2026.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa negara tersebut bersiap untuk memberikan sanksi kepada Israel sebagai respons atas pelanggaran yang dilakukan di Lebanon serta pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
“Gencatan senjata ini berlaku di seluruh wilayah, dan Israel dikenal sering mengabaikan janji-janji mereka. Mereka hanya bisa dihentikan dengan kekuatan senjata,” ungkap pejabat tersebut.
Selain itu, Jenderal Seyed Majid Mousavi, Komandan Kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon akan dianggap sebagai serangan terhadap Iran sendiri.
Badan berita Fars yang dikelola oleh Iran melaporkan, mengutip sumber militer anonim, bahwa Iran sedang mempersiapkan respons terhadap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel.
Militer Israel menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan serangan terkoordinasi terbesar di Lebanon sejak dimulainya operasi militer pada 2 Maret. Wilayah yang menjadi target serangan mencakup Beirut, Lembah Bekaa, dan bagian selatan Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur yang dimiliki oleh Hezbollah.
Dalam sebuah pernyataan melalui video, Katz menyebut bahwa militer Israel telah melancarkan serangan mendadak terhadap ratusan anggota Hezbollah yang beroperasi di pusat-pusat komando di seluruh Lebanon, dan mengklaim ini sebagai serangan terbesar sejak operasi besar tahun 2024 yang melibatkan penggunaan bom.
Pihak militer Israel juga mengonfirmasi bahwa sebagian besar target serangan berada di kawasan sipil, namun mereka menegaskan bahwa upaya telah dilakukan untuk meminimalkan dampak terhadap warga sipil yang tidak terlibat.




