berita

Rehabilitasi 500 Hektare Mangrove untuk Atasi Abrasi yang Menggerus 1.700 Hektare Kebun Warga di Inhil

Abrasi pantai telah mengancam kawasan pesisir di Desa Kuala Selat, yang terletak di Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Dampak dari fenomena ini tidak hanya menggerus garis pantai, tetapi juga mengancam kehidupan dan mata pencaharian masyarakat setempat.

Sejak tahun 2021, sekitar 1.700 hektare lahan pertanian milik warga di wilayah tersebut telah terpengaruh oleh abrasi. Keadaan ini menarik perhatian dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi yang dilakukan oleh Polda Riau, yang menjangkau Kuala Selat pada tanggal 15 Agustus 2026.

Kapolda Riau, Inspektur Jenderal Polisi Herry Heryawan, menegaskan bahwa abrasi bukan hanya sekadar masalah lingkungan. Menurutnya, fenomena ini memiliki dampak langsung terhadap kelangsungan hidup masyarakat yang tinggal di pesisir.

“Kami ingin agar masyarakat yang tinggal jauh di pesisir merasakan kehadiran negara. Kami datang untuk menunjukkan kepedulian dan bersama-sama mencari solusi,” ungkap Herry.

Dia menekankan bahwa ketika wilayah pesisir terus tergerus, dampaknya akan meluas ke lahan pertanian dan sumber penghidupan masyarakat.

“Ketika pesisir hilang, bukan hanya tanah yang hilang. Kebun masyarakat, sumber penghidupan, dan masa depan generasi mendatang juga terancam. Menjaga ekosistem mangrove berarti melindungi masyarakat yang bergantung padanya,” jelasnya.

Upaya pemulihan kawasan Kuala Selat tidak hanya berhenti pada penanaman simbolis. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk melakukan rehabilitasi mangrove dalam skala besar.

Ia menargetkan penanaman mangrove di area yang terkena abrasi mencapai 500 hektare, dengan kemungkinan perluasan hingga 1.000 hektare.

“Ekspedisi Merah Putih Presisi, yang juga didukung oleh Kapolri, bertujuan untuk memulihkan lingkungan. Daerah ini sangat memerlukan tindakan pemulihan lingkungan yang signifikan,” ujarnya.

“Saya berkomitmen untuk memastikan penanaman 500 hektare mangrove di wilayah yang terkena abrasi. Semoga target 1.000 hektare dapat tercapai sebagai bagian dari pemulihan lingkungan dan sosial ekonomi,” tambahnya.

Menurut Jumhur, program rehabilitasi ini lebih dari sekadar mengejar jumlah pohon yang ditanam. Masyarakat setempat akan dilibatkan dalam setiap tahap, mulai dari pembibitan hingga pemeliharaan pohon-pohon tersebut.

Dengan pendekatan ini, rehabilitasi mangrove diharapkan tidak hanya dapat memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang kerja berbasis lingkungan, atau yang dikenal sebagai green jobs, bagi masyarakat pesisir.

“Ini bukan hanya tentang menanam dan meninggalkan. Proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan akan didanai, sehingga masyarakat bisa mendapatkan penghasilan untuk pemeliharaan selama tiga tahun,” jelasnya.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k