bisnis

Ray Dalio Ungkap Potensi Krisis Utang 2029 dengan Beban Mencapai US$40 Triliun

Investor miliarder Ray Dalio kembali memberikan peringatan serius terkait potensi krisis utang yang dapat menghantui Amerika Serikat (AS). Pendiri Bridgewater Associates ini menekankan bahwa kondisi keuangan AS saat ini semakin mendekati titik kritis, di mana utang nasional terus mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalio memprediksi bahwa krisis utang ini bisa terjadi dalam waktu dekat, tepatnya sekitar musim gugur 2029. Peringatan ini disampaikan saat utang nasional AS telah melampaui angka US$40 triliun, yang setara dengan sekitar Rp712 kuadriliun berdasarkan kurs Rp17.800 per dolar AS.

Menurut Dalio, pertumbuhan utang yang pesat dan jumlah utang yang sangat besar membuat AS semakin kesulitan untuk mempertahankan stabilitas finansial. “Saya memperkirakan bahwa krisis utang akan melanda dalam tiga tahun ke depan,” ungkapnya, seperti dilansir dari Business Insider.

Sebagai penulis buku “How Countries Go Broke,” Dalio menilai bahwa AS kini berada di ambang batas kemampuan dalam menanggung beban utang yang terus menumpuk. “Ketika utang bertambah lebih cepat daripada kemampuan untuk membayarnya, maka biaya untuk melunasi utang tersebut akan semakin meningkat,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tingginya proporsi utang terhadap arus kas individu akan mulai menekan pengeluaran. “Ketika hal ini terjadi, Anda akan menghadapi masalah yang serius,” jelasnya lebih lanjut.

Pada bulan Agustus 2026, total utang AS telah mencapai lebih dari US$40 triliun. Dalam konteks nilai tukar Rp17.800 per dolar AS, jumlah ini setara dengan sekitar Rp712 kuadriliun.

Setelah disesuaikan dengan inflasi, utang tersebut telah meningkat lebih dari US$10 triliun, atau sekitar Rp178 kuadriliun, sejak tahun 2019. Prosentase kenaikan ini mencapai lebih dari 33 persen dalam kurun waktu tersebut.

Dalio juga menggarisbawahi isu lain yang semakin membebani pemerintah AS, yaitu tingginya biaya pembayaran bunga utang. Saat ini, pembayaran bunga telah melampaui angka US$1 triliun per tahun, yang ekuivalen dengan sekitar Rp17,8 kuadriliun.

Besaranya pembayaran bunga utang ini menyerap hampir seperlima dari total anggaran federal, sehingga dapat mengurangi kemampuan pemerintah untuk membiayai berbagai kebutuhan lainnya. Ini mencakup jaminan sosial, layanan kesehatan, pertahanan, dan pendidikan.

Lebih lanjut, Dalio menyoroti adanya tekanan dari perubahan minat negara-negara lain terhadap surat utang AS. Ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini diperkirakan telah mengurangi permintaan dari sejumlah negara terhadap utang AS.

Related Articles

Back to top button
kpkgg