lifestyle

Mengapa Konten Kesehatan yang Menakutkan Lebih Viral? Simak Penjelasan Ilmiahnya

Media sosial saat ini telah menjadi sumber utama bagi orang-orang yang mencari informasi seputar kesehatan dan kebiasaan makan. Namun, di tengah arus informasi yang melimpah, konten yang menyajikan narasi menakut-nakuti seringkali lebih mudah menarik perhatian dan menciptakan keterlibatan.

Pernyataan seperti “makanan ini sebenarnya berbahaya bagi tubuh Anda” atau klaim bahwa suatu produk mengandung zat yang mengerikan merupakan contoh bagaimana isu kesehatan sering disajikan dengan cara yang sensasional. Masalahnya, informasi tersebut sering kali tidak disertai penjelasan tentang dosis, cara paparan, maupun bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Fenomena ini berkaitan erat dengan cara manusia bereaksi terhadap ancaman. Ketika mendengar istilah seperti “berbahaya” atau “tidak sehat”, otak kita lebih cepat merespons dibandingkan saat harus mencerna penjelasan yang berbasis data dan fakta.

Salah satu contoh yang mencolok dari fenomena ini adalah chemophobia, yaitu ketakutan yang berlebihan terhadap bahan kimia. Dalam konteks makanan, ketakutan ini dapat muncul ketika konsumen menemukan nama-nama bahan tambahan yang tidak familiar, tanpa memahami fungsi atau batasan penggunaannya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Applied Sciences pada tahun 2025 menunjukkan bahwa chemophobia dapat semakin diperparah oleh sensasionalisme di media sosial serta pemasaran yang menyajikan klaim menyesatkan, seperti “bebas bahan kimia” atau “100 persen alami”.

Padahal, dari sudut pandang ilmiah, bahan-bahan alami juga tersusun dari senyawa kimia. Dengan demikian, kehadiran istilah kimia pada label produk tidak selalu menandakan bahwa produk tersebut berbahaya.

Dalam bidang toksikologi, terdapat prinsip yang dikenal dengan istilah “the dose makes the poison”. Ini berarti bahwa tingkat paparan atau dosis merupakan faktor penting dalam menentukan apakah suatu zat dapat menimbulkan risiko. Bahkan, zat yang umumnya dianggap aman dapat menyebabkan masalah jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

Sebaliknya, sejumlah bahan tambahan pangan yang memiliki nama yang kurang dikenal oleh konsumen telah melalui proses penilaian keamanan dan memiliki batas penggunaan yang jelas. Oleh karena itu, menilai suatu bahan hanya dengan berdasarkan nama atau potongan informasi yang beredar di media sosial dapat berisiko memunculkan kesimpulan yang salah.

Mekanisme penyebaran informasi di media sosial juga menambah kompleksitas masalah ini. Konten yang mampu membangkitkan emosi yang kuat, khususnya rasa takut, cenderung lebih mudah menarik perhatian dan mendapatkan interaksi dari pengguna.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konten kesehatan viral sering kali tidak sejalan dengan akurasi informasi yang disampaikan. Masyarakat perlu lebih kritis dalam menyaring informasi yang mereka terima, terutama yang berkaitan dengan kesehatan.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k