IHSG Jumat Pagi Menguat, Pentingnya Mempertahankan Level Kritis untuk Stabilitas Pasar

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan hari ini, Jumat (2/10/2026), dengan menunjukkan penguatan. Kenaikan ini terjadi setelah IHSG mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
IHSG dibuka dengan kenaikan sebesar 8,58 poin atau setara dengan 0,14 persen, mencapai level 6.018,08. Di sisi lain, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan, juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,90 poin atau 0,15 persen, berada di posisi 593,28.
Pada sesi perdagangan Kamis (1/10/2026), IHSG ditutup dengan penurunan sebesar 61,64 poin, atau 1,02 persen, sehingga berada di level 6.009,50. Sepanjang hari perdagangan, indeks ini tetap berada di zona merah mulai dari pembukaan hingga penutupan.
M Nafan Aji Gusta, seorang Analis Teknikal Senior di Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa pelaku pasar terus memantau perombakan kabinet yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Perubahan dalam susunan pejabat pemerintahan ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor untuk memahami arah kebijakan ekonomi yang akan datang.
“Dari sudut pandang domestik, pasar merespons perkembangan reshuffle kabinet yang menimbulkan ketidakpastian terkait arah kebijakan pemerintah di masa mendatang,” ungkap Nafan pada hari Kamis.
Menurut Nafan, perubahan dalam kabinet dapat berdampak pada pergerakan pasar dalam jangka pendek, mengingat investor perlu menilai kembali arah kebijakan dan koordinasi di antara kementerian.
“Secara jangka pendek, reshuffle kabinet ini berpotensi meningkatkan volatilitas karena pasar harus mengevaluasi kembali arah kebijakan, sinergi antarkementerian, serta dampaknya terhadap program fiskal dan ekonomi,” tambahnya.
Nafan juga menekankan pentingnya mengikuti respons pasar terhadap perubahan kabinet ini dengan memperhatikan perkembangan kebijakan dan pelaksanaan program-program pemerintah selanjutnya.
“Perkembangan reshuffle kabinet menunjukkan bahwa pasar memberikan respons langsung terhadap perubahan tersebut, meskipun kita perlu membedakan antara reaksi awal dan dampak fundamentalnya,” sambungnya.
Selain faktor-faktor domestik, pasar saham juga terpengaruh oleh kondisi eksternal. Tingginya imbal hasil US Treasury, tekanan pada nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian geopolitik merupakan beberapa faktor yang dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Situasi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Nafan menyatakan bahwa investor saat ini cenderung melakukan penyesuaian portofolio dan memilih saham dengan lebih selektif.
“Sikap investor saat ini lebih defensif dan selektif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sikap ini terlihat dari arus dana asing yang masih tertekan serta pergerakan saham-saham dengan kapitalisasi besar. “Ini terlihat dari berlanjutnya net foreign sell dan tekanan yang dialami oleh sejumlah saham big caps.”




