Kepala KSP Memaparkan Strategi Efektif Pemerintah Atasi Karhutla di Indonesia

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Listyo Sigit, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk menangani masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai daerah. Dalam upaya ini, Presiden telah memberikan instruksi kepada TNI, Polri, serta pemerintah daerah, termasuk Manggala Agni, untuk bersinergi dalam proses pemadaman kebakaran yang melanda.
“Selain melaksanakan pemantauan yang intensif, kami juga telah melakukan kajian untuk menentukan langkah-langkah terbaik dalam penanganan. Yang pasti, Presiden telah meminta semua pihak, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat, untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah karhutla ini,” jelas Listyo Sigit di Istana Kepresidenan pada Minggu (11/10/2026).
Lebih lanjut, Sigit menambahkan bahwa pemerintah telah membentuk satuan tugas khusus untuk mempercepat penanganan karhutla. Tim yang terdiri dari personel darat dan udara ini akan dikerahkan untuk membantu memadamkan api yang mengancam wilayah-wilayah rawan kebakaran.
“Dari Satgas udara hingga Satgas darat, kami juga melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan sosialisasi, edukasi, serta perbaikan regulasi. Semua hal ini sedang didorong, termasuk persiapan Badan Restorasi Gambut agar lebih fleksibel dalam menghadapi dan mencegah terjadinya karhutla di masa mendatang,” tambahnya.
Sebagai informasi, hingga Sabtu (10/10) pukul 21.00, Kementerian Kehutanan mencatat adanya 793 titik api karhutla yang terdeteksi secara nasional. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan jumlah 437 titik yang tercatat pada hari sebelumnya.
Dari data yang diperoleh mengenai enam provinsi prioritas dalam pengendalian karhutla, terdapat 288 titik di Kalimantan Tengah, 60 titik di Sumatera Selatan, 44 titik di Kalimantan Barat, 28 titik di Kalimantan Selatan, satu titik di Jambi, dan tidak ada titik api yang terdeteksi di Riau.
Peningkatan jumlah titik api ini terutama terkonsentrasi di Kalimantan Tengah, di mana lebih dari separuh jumlah hotspot di enam provinsi prioritas berada di wilayah tersebut. Oleh karena itu, upaya pemantauan, patroli, pemeriksaan lapangan, dan operasi pengendalian terus diperkuat agar dampak karhutla dapat diminimalisir.
Di sisi lain, Sumatera Selatan menunjukkan penurunan jumlah hotspot yang terdeteksi dibandingkan dengan sehari sebelumnya. Namun, tingkat kewaspadaan tetap harus dijaga karena kondisi cuaca dan kekeringan yang masih ada dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di area tersebut.




