Afna Regita, Korban Kecelakaan Kereta Argo Bromo dan KRL Melalui Smartwatch Temannya

Afna Regita, seorang wanita berusia 29 tahun, menjadi salah satu korban dalam kecelakaan tragis yang melibatkan kereta Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026. Insiden ini mengejutkan banyak pihak dan memunculkan perhatian luas di masyarakat.
Ayah Afna, Rahmat yang berusia 46 tahun, awalnya tidak menyadari bahwa putrinya terlibat dalam kecelakaan tersebut. Meskipun ia sudah mendapat kabar tentang adanya kecelakaan kereta, berita mengenai anaknya yang terlibat belum sampai ke telinganya.
“Saya baru pulang kerja sekitar jam 11 malam. Saat itu, saya sedang scroll TikTok dan melihat berita tentang kecelakaan tersebut, tetapi tidak tahu bahwa anak saya juga terlibat,” ungkap Rahmat di RSUD Kota Bekasi, saat diwawancarai pada Kamis, 30 April 2026.
Rahmat baru mengetahui kondisi putrinya setelah dihubungi oleh teman Afna. Dalam situasi darurat, Afna menggunakan smartwatch-nya untuk menghubungi temannya, karena ponselnya hilang akibat terlempar saat kecelakaan.
“Saya menerima kabar itu di rumah sekitar tengah malam, mungkin jam 12 lebih sedikit. Teman-teman Afna yang memberi tahu saya,” jelas Rahmat.
Ia melanjutkan, “Afna memiliki iPhone, tetapi sayangnya ponselnya hilang. Untungnya, dia masih bisa menggunakan iWatch-nya untuk mengirim pesan kepada temannya, dan teman itu yang akhirnya mengabari kami.”
Setelah kejadian tersebut, Afna dipindahkan ke RS Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan, pada Rabu, 29 April, atas permintaan orang tuanya. Langkah ini diambil agar Afna bisa dirawat lebih dekat dengan rumahnya.
Awalnya, Afna dirawat di RSUD Kota Bekasi. Rahmat menjelaskan bahwa pemindahan ini dilakukan agar ia lebih mudah menjenguk putrinya yang sedang dalam perawatan.
“Saya meminta untuk dipindahkan agar rumah kami lebih dekat dengan rumah sakit. Kami tinggal di Kebayoran Lama, jadi perjalanan ke sini memakan waktu sekitar satu jam,” tuturnya.
“Saya bekerja dan merasa lelah bolak-balik. Pemindahan ini bukan karena rekomendasi medis, tetapi murni keinginan saya sebagai orang tua,” tambahnya dengan tegas.
Kejadian ini memberi pelajaran berharga mengenai pentingnya komunikasi dalam situasi darurat. Penggunaan smartwatch sebagai alat komunikasi darurat membuktikan bahwa teknologi dapat membantu dalam situasi kritis.
Keluarga Afna berharap agar kejadian ini menjadi perhatian bagi pihak berwenang untuk meningkatkan keselamatan transportasi umum, khususnya kereta api. Kecelakaan ini tidak hanya merugikan korban, tetapi juga menimbulkan trauma yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat luas.
Dalam momen sulit ini, dukungan dari teman dan keluarga menjadi sangat berarti. Rahmat menyatakan bahwa mereka sangat berterima kasih kepada semua yang telah memberikan dukungan moral dan materi.
Keberanian Afna dalam menghadapi keadaan darurat patut dicontoh, dan kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk selalu siap siaga dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.
Kejadian di Stasiun Bekasi Timur ini juga menggambarkan betapa rentannya keselamatan penumpang kereta. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan selalu memperhatikan informasi terkait pelayanan kereta api yang mereka gunakan.
Dengan harapan agar tidak ada lagi kejadian serupa di masa depan, penting untuk terus mendorong diskusi mengenai keselamatan transportasi dan upaya mitigasi risiko yang lebih baik.
Semoga Afna segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Masyarakat juga diharapkan dapat belajar dari insiden ini untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan saat menggunakan moda transportasi umum.



