Bakrie & Brothers Lakukan Right Issue 2023, Targetkan Dana Rp6,5 Triliun untuk Reduksi Utang

Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), yang merupakan emiten yang bergerak di berbagai sektor, telah mendapatkan lampu hijau dari pemegang sahamnya untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau yang lebih dikenal sebagai rights issue. Perusahaan ini berencana untuk menerbitkan sebanyak 90 miliar lembar saham baru Seri E.
Melalui inisiatif rights issue ini, Direktur Keuangan BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti, mengungkapkan bahwa perusahaan menargetkan dapat menghimpun dana segar dalam kisaran Rp 4 triliun hingga Rp 6,5 triliun.
“Estimasi pengumpulan dana berada di antara Rp 4 triliun hingga Rp 6,5 triliun. Namun, angka finalnya akan diumumkan pada 9 Maret 2026,” jelas Roy kepada wartawan usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung di Jakarta, pada Jumat, 27 Februari 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Anindya N. Bakrie selaku Direktur Utama & CEO BNBR menekankan pentingnya pelaksanaan PMHMETD untuk memperbaiki struktur pendanaan terkait dengan akuisisi PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).
Dari total 90 miliar lembar saham yang akan diterbitkan, saham-saham ini akan dikeluarkan dari portepel dan akan terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan regulasi yang berlaku.
“Seluruh dana yang diperoleh dari PMHMETD akan digunakan untuk memenuhi kewajiban keuangan perusahaan dan/atau anak perusahaan kepada kreditor, serta untuk modal kerja dan pengembangan usaha di perusahaan dan/atau anak perusahaan, termasuk CCT,” jelas Anin.
Anin optimis bahwa pelaksanaan PMHMETD ini akan memberikan efek positif terhadap kinerja finansial perusahaan. Langkah korporasi ini diharapkan juga akan memperkuat operasional dan struktur pendanaan.
“Di samping itu, tambahan modal ini berpotensi untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam melakukan ekspansi usaha, yang pada gilirannya akan berdampak positif terhadap profitabilitas perusahaan serta diharapkan bisa meningkatkan imbal hasil investasi bagi seluruh pemegang saham,” tambah Anin.
Setelah aksi korporasi ini dilaksanakan, Anin menjelaskan bahwa rasio total utang terhadap total aset akan menurun menjadi 67,9 persen setelah PMHMETD, dibandingkan sebelumnya yang mencapai 84,28 persen. Penurunan ini mencerminkan adanya peningkatan dalam komposisi pendanaan berbasis ekuitas, yang pada gilirannya akan meningkatkan kontribusi kinerja aset kepada para pemegang saham.
“Penurunan rasio ini memberikan perusahaan fleksibilitas lebih dalam melakukan ekspansi dan mendapatkan modal kerja dari tambahan pendanaan eksternal jika diperlukan,” ujarnya.


