berita

Muktamar NU Harus Terbebas dari Pengaruh Aktor Politik, Tegas Gus Lilur

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang lebih dikenal sebagai Gus Lilur, menegaskan bahwa muktamar NU ke-35 bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah momentum penting yang dapat menentukan arah masa depan Nahdlatul Ulama. Dalam pandangannya, muktamar ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dan strategis bagi perkembangan organisasi.

Gus Lilur menyatakan rasa herannya mengenai posisi NU saat ini, apakah masih berpegang pada prinsip-prinsip keulamaan atau justru semakin terjebak dalam politik praktis yang kerap memecah konsentrasi organisasi. Pertanyaan ini mengajak kita untuk merenungkan kembali identitas dan tujuan awal NU.

“NU didirikan oleh para ulama besar dengan landasan ilmu dan akhlak, bukan sebagai alat kepentingan politik,” tegas Gus Lilur pada Rabu, 15 April 2026. Pernyataan ini menggambarkan keinginannya agar NU tetap berpegang pada nilai-nilai awalnya, jauh dari kepentingan kekuasaan.

Ia mengamati bahwa kemunculan nama-nama seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf dalam dinamika organisasi menunjukkan kaburnya batas antara organisasi keagamaan dan politik. Gus Lilur juga menyoroti kepemimpinan Yahya Cholil Staquf yang perlu dievaluasi secara terbuka demi kemajuan jam’iyah ke depan.

“Ini bukan sekadar masalah individu, tetapi menyangkut marwah organisasi. NU harus dilindungi agar tidak menjadi panggung bagi politisi. Jika hal ini terus dibiarkan, kepercayaan umat akan perlahan-lahan memudar,” ujarnya dengan tegas.

Gus Lilur juga mencermati fenomena yang ia sebut sebagai “gus-gus nanggung,” yang sering kali memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi. Ia menyayangkan sikap sebagian pengurus yang lebih fokus membangun jaringan kekuasaan dibandingkan memperkuat fondasi keilmuan dan kaderisasi dalam organisasi.

“Kita memiliki tradisi yang kaya, banyak pesantren, dan forum bahtsul masail. Namun, sering kali yang muncul bukanlah sosok yang paling berilmu, melainkan mereka yang paling dekat dengan kekuasaan,” ungkapnya dengan nada kritis.

Ia menegaskan bahwa NU tidak kekurangan tokoh yang memiliki kapasitas keulamaan dan intelektualitas yang tinggi. Menurutnya, ada banyak individu yang lebih layak dan kredibel untuk memimpin arah organisasi ke depan, dan ini harus diperhatikan oleh para peserta muktamar.

“Jika kita berbicara mengenai kualitas, ada Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, dan Zulfa Mustofa. Mereka semua memiliki kapasitas keulamaan yang jelas dan intelektualitas yang sangat baik. NU kaya akan tokoh, jangan sampai yang tampil hanyalah yang itu-itu saja karena alasan politik,” tambahnya.

Gus Lilur menekankan bahwa muktamar harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memurnikan organisasi. Dia berharap agar para peserta muktamar memiliki keberanian moral dalam memilih pemimpin yang benar-benar berasal dari tradisi keilmuan, bukan dari kepentingan politik yang bersifat elektoral.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k