bisnis

Raksasa Fast Fashion Tutup Ratusan Toko di 2026, Apa Penyebabnya?

Industri fast fashion global kini tengah menghadapi perubahan drastis akibat tekanan biaya operasional yang tinggi dan pergeseran perilaku konsumen. Model bisnis yang sebelumnya mengandalkan pertumbuhan melalui pembukaan toko fisik kini mulai beralih ke platform digital, sejalan dengan semakin kuatnya peran e-commerce di pasar.

H&M Group, salah satu raksasa dalam sektor ini, telah mengambil tindakan signifikan dengan menutup ratusan gerai dan mengubah strategi bisnisnya. Sejak didirikan pada tahun 1947, perusahaan ini kini mempercepat transformasi guna menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri fashion.

Sumber utama tekanan bagi H&M datang dari platform digital seperti Shein dan Temu, yang menawarkan produk dengan harga yang sangat kompetitif. Kedua platform ini telah berhasil menarik perhatian konsumen, terutama mereka yang sangat sensitif terhadap harga, berkat rantai pasok yang efisien dan model bisnis berbasis online yang inovatif.

Sebagai respons terhadap tantangan ini, H&M berencana untuk melanjutkan penutupan toko pada tahun 2026 setelah sebelumnya menutup sekitar 200 lokasi secara global pada tahun 2025. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mengoptimalkan portofolio toko dan lebih fokus pada pengembangan saluran digital.

Selama kuartal pertama tahun fiskal 2026, H&M melaporkan penurunan penjualan bersih sebesar 1 persen dibandingkan tahun sebelumnya dalam mata uang lokal. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya jumlah toko yang beroperasi, yang menyusut sekitar 4 persen.

Laporan keuangan perusahaan menyatakan, “Optimalisasi portofolio toko memberikan dampak yang agak negatif terhadap penjualan pada kuartal pertama 2026 karena penutupan dan renovasi toko,” sebagaimana dilaporkan oleh The Street.

Namun, H&M menekankan bahwa strategi ini bersifat jangka panjang. “Untuk keseluruhan tahun 2026, dampak penjualan dari optimalisasi toko diperkirakan akan sedikit positif,” tulis perusahaan dalam laporan mereka.

Secara keseluruhan, H&M telah mengurangi jumlah gerainya sebanyak 163 lokasi, sehingga saat ini memiliki sekitar 4.050 toko di seluruh dunia. Meskipun langkah ini berpotensi mempengaruhi penjualan jangka pendek, perusahaan percaya bahwa tindakan ini akan meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas di masa depan.

Transformasi ini juga didorong oleh pertumbuhan pesat sektor e-commerce. Saat ini, penjualan online menyumbang lebih dari 30 persen dari total pendapatan H&M, menunjukkan adanya pergeseran yang signifikan dalam perilaku berbelanja konsumen.

H&M menegaskan bahwa pengalaman pelanggan kini menjadi prioritas utama dalam strategi omnichannel mereka. “Pelanggan menginginkan inspirasi dan akses terhadap produk, sehingga mereka dapat berbelanja di mana saja, kapan saja, dan dengan cara yang mereka pilih, baik itu di toko fisik, situs resmi, marketplace digital, atau media sosial.”

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k