Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini menarik perhatian publik dengan leluconnya mengenai nama ‘Mohammad’ yang sering dipakai di kalangan umat Muslim. Dalam sebuah acara kampanye di Dalton, Georgia, pada tanggal 16 Oktober 2026, Trump membuat pernyataan tersebut saat membahas isu kepemimpinan Iran menjelang pemilihan paruh waktu yang akan berlangsung pada 3 November.
“Jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, cukup sebut ‘Mohammad’,” ungkap Trump kepada para pendukungnya di Dalton. Ia menambahkan, “Kemungkinan Anda benar sekitar 65 persen. ‘Halo, Mohammad.’ Saya sudah melakukan ini selama bertahun-tahun dan tidak pernah salah.” Pernyataan ini dilaporkan oleh Reuters pada tanggal 17 Oktober 2026.
Nama ‘Mohammad’ merupakan salah satu nama yang paling umum di kalangan umat Muslim. Banyak orang tua Muslim memilih nama ini untuk anak laki-laki mereka sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Trump mengeluarkan pernyataan tersebut dalam konteks diskusi mengenai Iran selama kampanye di hanggar Bandara Kota Dalton, Georgia. Acara ini diadakan untuk mendukung kandidat Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November mendatang.
“Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden,” kata Trump menyoroti situasi politik di negara tersebut.
Ia kemudian berpura-pura bertanya kepada beberapa individu bernama ‘Mohammad’ apakah mereka ingin menjadi presiden Iran, yang saat ini dipimpin oleh Masoud Pezeshkian, yang menjabat sejak tahun 2024.
Namun, candaan tersebut tidak mendapat sambutan hangat dari para hadirin yang hadir di acara tersebut.
Pernyataan Trump tersebut kembali menuai kritik dari berbagai pihak.
Retorika Trump sering kali mendapat sorotan tajam dari kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia dan organisasi advokasi Muslim, yang menilai bahwa pernyataannya sering kali memberikan gambaran negatif terhadap umat Muslim, imigran, dan kelompok etnis minoritas.
Selama masa kampanye pemilihan paruh waktu, Trump juga mengintensifkan retorikanya terhadap warga Amerika keturunan Somalia dan umat Muslim. Di antara target pernyataannya adalah Abdul El-Sayed, seorang kandidat Muslim dari Partai Demokrat untuk Senat AS, serta Ilhan Omar, anggota DPR dari Partai Demokrat yang berasal dari Minnesota dan datang ke AS sebagai pengungsi dari Somalia.
Dalam pidatonya, Trump kembali menegaskan komitmennya bahwa Iran tidak akan pernah memiliki akses terhadap senjata nuklir. Pernyataan ini disampaikan tujuh bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran, yang salah satu tujuannya adalah untuk mengganggu program nuklir Iran.

