Site icon Kodokoala Media

Sekjen PDIP Hasto Hadiri Konsolidasi Demokrasi Regional Filipina dalam Peringatan 40 Tahun ‘People Power

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, hadir dalam rangkaian acara Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) yang diadakan di Hotel Dusit Thani, Manila, pada Kamis, 26 Maret 2026.

Forum yang bertajuk “All About Democracy” ini menjadi momen penting untuk konsolidasi kekuatan politik pro-demokrasi di Asia, terutama di tengah tantangan global yang mengarah pada kemunduran demokrasi.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto didampingi oleh Ketua Departemen Hubungan Internasional DPP PDIP, Hanjaya Setiawan, pengurus DPC PDIP Depok, drg. Rahma Charliyan, serta sejumlah simpatisan partai yang turut meramaikan acara.

Setiap tokoh partai politik yang hadir diperkenalkan oleh Moritz Kleine-Brockhoff, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Wilayah Asia Tenggara & Timur untuk Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF).

Saat memperkenalkan Hasto, Moritz menyatakan bahwa Hasto merupakan sosok pejuang demokrasi yang bahkan pernah mengalami penahanan akibat kriminalisasi. Pernyataan tersebut langsung disambut dengan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Hasto pun memberikan penghormatan kepada semua hadirin yang hadir.

“Hasto adalah salah satu tokoh politik favorit saya,” ungkap Moritz.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo “Erin” Tañada III. Dalam pidatonya, Tañada menekankan pentingnya peringatan 80 tahun Partai Liberal Filipina dan 40 tahun Revolusi People Power (EDSA). Ia menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan haruslah berlandaskan partisipasi aktif masyarakat, bukan sekadar tradisi yang diwariskan.

“Demokrasi harus dimulai dari barisan kita sendiri,” tegas Erin Tañada, yang juga menandai dimulainya era baru pemilihan pemimpin CALD secara langsung.

Erin juga menjelaskan bahwa saat ini di berbagai belahan dunia, kita menghadapi kemunduran demokrasi, hilangnya kepercayaan terhadap institusi, serta tantangan yang semakin kompleks terhadap kebebasan mendasar.

“Biarlah pertemuan di Manila ini menjadi jawaban kita. Ini adalah ruang untuk menegaskan kembali komitmen kita, bukan hanya terhadap idealisme demokrasi, tetapi juga terhadap tindakan nyata dalam demokrasi. Mari kita perkuat kemitraan, tajamkan strategi, dan perbarui tekad kita,” jelas Tañada.

Usai pembukaan, agenda dilanjutkan dengan seminar penting yang membahas peran perempuan dalam politik, berjudul “Democratic Resilience at Risk: Violence Against Women in Politics in Asia”. Sesi ini menampilkan tokoh demokrasi Filipina, Leila de Lima, sebagai panelis utama yang memberikan wawasan mendalam.

Exit mobile version