Site icon Kodokoala Media

Rupiah Menguat ke 17.164 Sementara Defisit APBN Tertekan Lonjakan Harga Minyak

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengalami pergerakan yang fluktuatif, meskipun hari ini ditutup dengan penurunan.

Berdasarkan informasi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat di angka Rp 17.189 pada Jumat, 17 April 2026. Posisi ini menunjukkan penurunan sebesar 47 poin dibandingkan kurs sebelumnya yang berada di Rp 17.142 pada perdagangan Kamis, 16 April 2026.

Di sisi lain, pada perdagangan di pasar spot pada Senin, 20 April 2026, hingga pukul 09.03 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp 17.164 per dolar AS. Ini merupakan penguatan sebesar 25 poin atau sekitar 0,15 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp 17.189 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia memulai tahun 2026 dengan cukup optimis. Inflasi terjaga dan mendekati target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI), sementara konsumsi rumah tangga tetap solid, didorong oleh momentum Ramadan dan Lebaran yang kuat.

Surplus pada neraca perdagangan juga terus terjaga, dengan sektor komoditas, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit, memberikan dukungan terhadap tekanan dari faktor global.

Namun, menjelang akhir kuartal pertama tahun 2026, muncul tekanan eksternal yang signifikan. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dengan cepat berakibat pada lonjakan harga minyak, yang melebihi asumsi makro yang digunakan sebagai dasar perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Harga minyak Brent bahkan sempat melampaui angka USD 118 per barel pada beberapa pekan di awal konflik. Saat ini, konflik tersebut telah berlangsung selama tujuh pekan tanpa tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Meski harga minyak mentah meningkat, pemerintah tetap berkomitmen untuk tidak menaikkan harga bahan bakar bersubsidi. Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat. Jika tidak, inflasi dapat meningkat secara signifikan.

Sebelumnya, dalam pertemuan di AS dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P), pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit APBN 2026 yang awalnya diperkirakan akan melebar menjadi 2,9 persen akibat kenaikan harga minyak, bahkan diprediksi dapat sedikit menurun menjadi 2,8 persen terhadap PDB. Meskipun angka ini masih lebih tinggi dibandingkan rancangan awal yang sebesar 2,68 persen, pemerintah tetap konsisten dalam upaya menjaga defisit di bawah 3 persen dari PDB.

Exit mobile version