Site icon Kodokoala Media

Program Sosial Kapolri Diklaim Menggunakan Dana Pribadi, MPPI Tegaskan Tanpa APBN

Program sosial yang diinisiasi oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kini menjadi sorotan publik setelah munculnya pertanyaan mengenai sumber dana yang digunakan untuk mendanai berbagai inisiatif tersebut.

Ketua Masyarakat Pecinta Polisi Indonesia (MPPI), Zandre Badak, menegaskan bahwa berbagai program sosial yang dilaksanakan tidak memanfaatkan anggaran negara. Ia menjelaskan bahwa kegiatan seperti Umroh Presisi dan bedah rumah sepenuhnya didanai oleh uang pribadi Kapolri.

Pernyataan tersebut disampaikan Zandre saat mengawasi keberangkatan Heni Yawati, seorang asisten rumah tangga berusia 58 tahun asal Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, yang berangkat ke Tanah Suci.

Heni, yang dikenal dengan panggilan Bi Heni, merupakan salah satu penerima manfaat dari Program Umroh Presisi. Setelah bertahun-tahun menyimpan hasrat untuk beribadah, ia akhirnya dapat melihat Ka’bah di Mekkah dan berziarah ke Masjid Nabawi di Madinah.

Zandre mencatat bahwa pertanyaan mengenai sumber pendanaan program sosial ini sempat ramai dibahas di kalangan netizen. Ia merasa perlu memberikan klarifikasi terkait isu tersebut.

“Banyak netizen yang bertanya, ‘Dari mana uangnya? Apakah menggunakan APBN?’ Saya ingin menegaskan bahwa baik Program Bedah Rumah, Umroh Gratis Presisi, Ziarah Holyland Presisi, maupun Pembangunan Mushola Presisi, semuanya didanai sepenuhnya oleh dana pribadi Bapak Kapolri. Tidak ada sepeser pun yang berasal dari uang negara,” tegas Zandre dalam keterangannya pada 10 September 2026.

Menurut Zandre, perhatian Kapolri terhadap masyarakat melalui berbagai program tersebut sudah berlangsung dalam beberapa kesempatan. Ia mengaku telah menyaksikan langsung bentuk kepedulian tersebut, baik kepada masyarakat luas maupun kepada anggota Polri itu sendiri.

“Saya merupakan saksi hidup dari kepedulian Bapak Listyo Sigit Prabowo. Beliau telah membantu banyak masyarakat dan anggota Polri yang membutuhkan. Tidak berlebihan jika Ust. Zaini dan Bu Itoh menyebut Pak Kapolri sebagai ‘Malaikat Penolong’ bagi mereka,” lanjutnya.

Cerita Bi Heni menjadi salah satu kisah inspiratif yang menyertai pelaksanaan Program Umroh Presisi. Wanita yang lahir pada 17 Agustus 1968 ini mengaku sudah lama mendambakan untuk pergi ke Mekkah.

Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuat impiannya terasa sangat jauh dari jangkauan. Sejak kecil, Bi Heni telah membantu memenuhi kebutuhan keluarganya dengan bekerja untuk menopang adik-adiknya. Selain itu, ia juga merawat suaminya yang menderita penyakit batu ginjal dan harus menjalani cuci darah secara rutin.

Exit mobile version