Jakarta – PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sebagai subholding upstream Pertamina, menegaskan keseriusannya untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. PHE berkomitmen untuk mengembangkan bisnis energi yang ramah lingkungan sekaligus menghadapi beragam tantangan yang dihadapi industri energi global saat ini.
Edi Karyanto, Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PHE, menyampaikan bahwa PHE saat ini mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja migas di Indonesia, yang memberikan kontribusi penting terhadap total produksi migas nasional.
Menurut Karyanto, pada tahun 2025, PHE diperkirakan akan menyuplai sekitar 65 persen dari total lifting minyak domestik, setara dengan 396 ribu barel per hari (MBOPD), serta 35 persen dari lifting gas domestik yang mencapai 1,8 miliar kaki kubik per hari (BCFD). Hal ini diungkapkan dalam acara ‘Media Engagement Subholding Upstream Pertamina’ yang berlangsung di kantor PHE di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, pada Selasa, 10 Maret 2026.
PHE terus berupaya menjalankan berbagai program strategis untuk memastikan keberlanjutan produksi migas nasional di tengah tantangan yang disebabkan oleh kondisi geopolitik dan kompleksitas operasional yang semakin meningkat.
Karyanto menambahkan bahwa langkah-langkah penting untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional mencakup peningkatan eksplorasi, optimalisasi lapangan yang sudah ada, serta pengembangan dan penerapan teknologi untuk meningkatkan tingkat produksi. Ini diharapkan dapat membuka potensi sumber daya baru di berbagai cekungan migas di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, produksi migas dari PHE diproyeksikan mencapai sekitar 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD), yang terdiri dari 557 MBOPD untuk minyak dan 2,8 BCFD untuk gas.
Tak hanya berfokus pada kinerja produksi, PHE juga mencatat beberapa pencapaian strategis, termasuk penemuan sumber daya baru yang diperkirakan mencapai hingga 1 miliar barel setara minyak (BBOE). PHE juga telah menerapkan berbagai teknologi peningkatan produksi, seperti multistage fracturing, steam flood, dan chemical enhanced oil recovery (CEOR).
Memasuki tahun 2026, PHE telah menyiapkan sejumlah program untuk mengelola penurunan alami produksi, sekaligus meningkatkan volume dan sumber daya migas nasional.
Program-program ini mencakup pengeboran sebanyak 16 sumur eksplorasi dan 800 sumur eksploitasi. Selain itu, PHE juga akan melakukan kegiatan workover sebanyak 1.284 pekerjaan, survei seismik 2D sepanjang 904 kilometer, serta survei seismik 3D seluas 1.660 kilometer persegi. Tak kalah penting, kegiatan well intervention well service (WIWS) juga akan mencapai 33.000 pekerjaan.
Strategi PHE untuk meningkatkan produksi juga meliputi pengembangan lapangan yang telah ada (brownfield), eksplorasi lapangan baru (greenfield), serta penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk memaksimalkan perolehan hidrokarbon dari lapangan yang sudah beroperasi.

