Site icon Kodokoala Media

Presiden Kuba Ungkap Meningkatnya Ancaman Militer AS yang Berbahaya

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel Bermudez, baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya mengenai meningkatnya ancaman militer dari Amerika Serikat yang dianggapnya semakin berbahaya. Ia menyatakan bahwa situasi ini telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah hubungan kedua negara.

Dalam sebuah unggahan di platform X, Diaz-Canel menegaskan bahwa rakyat Kuba akan selalu siap menghadapi ancaman dari luar, dengan tekad yang kuat untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan mereka. Ia menyampaikan pesan bahwa setiap agresi terhadap Kuba akan menemukan perlawanan yang tak tergoyahkan dari masyarakatnya.

“Ancaman militer yang ditingkatkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mencapai taraf yang sangat berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada 3 Mei 2026.

Diaz-Canel juga menekankan perlunya perhatian dari komunitas internasional, serta meminta rakyat Amerika Serikat untuk menilai apakah tindakan kriminal semacam ini seharusnya dibiarkan terjadi demi memenuhi kepentingan segelintir orang kaya dan berkuasa, yang didorong oleh rasa dendam dan hasrat untuk mendominasi.

Sebelumnya, Presiden Trump telah menandatangani sebuah perintah eksekutif yang memberikan pembatasan terhadap institusi keuangan asing yang melakukan transaksi dengan individu atau perusahaan di Kuba, yang membuat mereka harus tunduk pada sanksi yang diterapkan oleh Amerika Serikat.

Menanggapi langkah pembatasan ini, Diaz-Canel menyebut tindakan tersebut sebagai cerminan dari kemerosotan moral pemerintah AS. Ia juga menegaskan bahwa pengetatan embargo yang dilakukan telah menyebabkan kerugian signifikan, yang berakar dari sikap intimidasi dan arogansi yang ditunjukkan oleh kekuatan militer terbesar di dunia.

Pada 29 Januari lalu, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang memberlakukan tarif impor terhadap negara-negara yang mengirimkan pasokan minyak ke Kuba, serta menyatakan keadaan darurat dengan alasan ancaman yang ditimbulkan oleh Kuba terhadap keamanan nasional AS.

Pemerintah Kuba menjelaskan bahwa AS memanfaatkan embargo energi sebagai alat untuk mencekik ekonomi nasionalnya, yang mengakibatkan kondisi kehidupan masyarakat setempat semakin sulit dan tidak tertahankan.

Exit mobile version