Site icon Kodokoala Media

Muktamar ke-35 NU Sebagai Momentum Kebangkitan Idrus Marham untuk Umat

Dua hari menjelang Muktamar ke-35 NU, situasi menjelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin memanas. Berbagai nama calon mencuat dengan tingkat dukungan yang bervariasi. Namun, hasil survei dan polling yang beredar belum menunjukkan adanya satu kandidat yang benar-benar unggul di antara mereka.

Di tengah dinamika tersebut, Idrus Marham yang merupakan Anggota Majelis Pertimbangan Organisasi Ikatan Keluarga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKPMII) menegaskan bahwa Muktamar NU seharusnya tidak dipersempit menjadi sekadar arena perebutan posisi Ketua Umum PBNU.

Idrus berpendapat bahwa Muktamar ke-35 NU harus dipandang sebagai momen kebangkitan Nahdlatul Ulama yang memasuki abad kedua perjalanan organisasi. Saat ini, momentum itu perlu diarahkan untuk memperkuat kepemimpinan, menetapkan arah perjuangan, serta meningkatkan peran NU dalam pembentukan peradaban di masa mendatang.

“Sejatinya, Muktamar NU yang ke-35, yang menandai awal abad kedua NU, harus dijadikan sebagai titik kebangkitan. Muktamar ini mesti dilihat sebagai kesempatan untuk bersatu sekaligus menguatkan peran NU dalam menentukan arah peradaban ke depan,” ujar Idrus dalam keterangan yang disampaikannya pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Menurut Idrus, semangat kebangkitan tersebut perlu diwujudkan melalui pilihan-pilihan yang ideal dalam proses Muktamar ini. NU tidak hanya dituntut untuk mempertahankan eksistensinya, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan akar tradisi agama yang telah menjadi landasan organisasi.

“Untuk itu, kita perlu melakukan langkah-langkah yang lebih ideal. Muktamar tahun ini harus menjadi titik bangkit, memasuki abad kedua, dengan tujuan menata kepemimpinan dan memperkuat peran NU dalam pembentukan peradaban masa depan,” ungkapnya.

Idrus menekankan bahwa kebangkitan NU tidak berarti meninggalkan tradisi yang telah menjadi fondasi organisasi selama ini. Sebaliknya, tradisi Ahlussunnah wal Jamaah harus tetap dijaga dan dikembangkan dengan konteks yang relevan sesuai dengan perubahan zaman yang terjadi.

“Dengan demikian, ada dua aspek penting. Kita harus merawat tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah dan sekaligus turut berkontribusi dalam pembentukan peradaban sesuai dengan perkembangan yang ada,” tegas Idrus.

Dengan harapan Muktamar NU menjadi momentum untuk merestrukturisasi kepemimpinan, memperkuat arah perjuangan, dan membangun masa depan NU yang lebih solid, Idrus percaya bahwa organisasi ini akan semakin berperan penting di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Exit mobile version