Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengambil langkah signifikan dengan mengembangkan laboratorium biologi molekuler yang memenuhi standar internasional. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan dalam mendeteksi penyakit menular dan melakukan skrining kanker dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Kalimantan Selatan, Arlan Prabowo, mengungkapkan bahwa fasilitas baru ini dilengkapi dengan ruang laboratorium yang telah memenuhi standar Biosafety Level 2 Plus (BSL 2+). Kehadiran ruang tersebut dimaksudkan untuk mendukung pemeriksaan berbasis teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai jenis penyakit.
“Layanan biologi molekuler yang kami kembangkan kini tidak hanya terbatas pada tes Covid-19, tetapi juga telah diperluas untuk mencakup berbagai diagnosis penyakit lainnya,” tutur Arlan pada 26 Maret 2026.
Selain itu, Arlan menambahkan bahwa salah satu layanan yang sudah berjalan adalah pemeriksaan HPV DNA untuk skrining kanker serviks. Ini merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang ditujukan untuk mengendalikan penyakit tidak menular yang semakin meningkat.
“Jumlah spesimen yang dikirim untuk diperiksa terus mengalami peningkatan berkat kerja sama yang erat dengan kabupaten/kota di Kalimantan Selatan,” jelasnya.
Laboratorium Kesehatan Daerah Kalimantan Selatan juga telah berhasil mengimplementasikan pemeriksaan PCR untuk mendeteksi tuberkulosis (TB). Hal ini tentunya berkontribusi pada upaya percepatan penanganan salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian utama di wilayah tersebut.
Arlan menekankan bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi fokus utama. Laboratorium ini dilengkapi dengan dokter spesialis mikrobiologi klinik sebagai penanggung jawab, serta tenaga analis yang telah menjalani pelatihan khusus dalam bidang biologi molekuler.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus memperluas cakupan layanan laboratorium ini guna mendeteksi berbagai penyakit infeksi dan kanker lainnya, mengingat semakin tingginya kebutuhan layanan kesehatan berbasis teknologi di Kalimantan Selatan,” tutup Arlan.

