Penyanyi pop asal Amerika Serikat, Kesha, baru-baru ini mengekspresikan kemarahannya setelah mengetahui bahwa lagu ikoniknya, “Blow,” digunakan dalam sebuah video yang diunggah oleh akun resmi Gedung Putih di media sosial. Video tersebut dianggap oleh banyak pihak sebagai bentuk promosi kekerasan dan meremehkan isu-isu terkait perang.
Video yang diposting pada tanggal 10 Februari tersebut menampilkan gambar jet tempur yang meluncurkan rudal ke arah kapal angkatan laut, disertai dengan keterangan yang berbunyi “Lethality” atau mematikan. Mari kita telusuri lebih lanjut mengenai kontroversi ini.
Setelah beberapa minggu sejak video tersebut viral, Kesha akhirnya memberikan tanggapannya di media sosial. Ia mengungkapkan bahwa ia baru mengetahui penggunaan lagunya dalam konten itu tanpa adanya izin dari dirinya.
“Telah sampai kepada saya bahwa Gedung Putih menggunakan salah satu lagu saya di TikTok untuk menghasut kekerasan dan mengancam perang,” tulis Kesha dalam cuitannya yang dikutip oleh media pada Rabu, 4 Maret 2026.
Ia juga menambahkan bahwa meremehkan isu perang adalah tindakan yang “menjijikkan dan tidak manusiawi.”
Kesha menekankan bahwa ia sama sekali tidak memberikan persetujuan bagi musiknya untuk digunakan dalam konteks promosi kekerasan dalam bentuk apapun. Ia juga menyampaikan pesan damai kepada penggemarnya, menegaskan bahwa cinta harus selalu mengalahkan kebencian, terutama di masa ketegangan seperti saat ini.
Di akhir pesannya, Kesha merujuk pada nama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sambil mengaitkannya dengan dokumen kasus Jeffrey Epstein yang sempat menjadi bahan perbincangan publik.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terhadap kritik yang dilontarkan oleh Kesha. Namun, Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, pernah mengutip pernyataan Kesha di platform X dan memberikan sindiran bahwa kritik dari para musisi justru membuat video tersebut semakin populer di kalangan masyarakat.
Kesha bukanlah satu-satunya artis yang mengungkapkan ketidakpuasan atas penggunaan lagu tanpa izin dalam konten pemerintah. Band asal Inggris, Radiohead, juga mengkritik Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat karena menggunakan lagu mereka berjudul “Let Down” dalam video yang mendukung kebijakan imigrasi.
Selain itu, Olivia Rodrigo juga pernah secara tegas melarang penggunaan lagunya untuk tujuan propaganda. Penyanyi lain seperti Sabrina Carpenter dan SZA juga telah menyatakan penolakan mereka saat lagu-lagu mereka digunakan dalam konteks yang berkaitan dengan isu imigrasi dan penegakan hukum.
Kritik terhadap penggunaan lagu-lagu oleh pemerintah bukanlah hal yang baru. Banyak artis yang merasa bahwa musik mereka seharusnya tidak digunakan untuk mendukung agenda yang bertentangan dengan nilai-nilai mereka. Penggunaan lagu dalam konteks yang menghasut atau merendahkan isu kemanusiaan menimbulkan pertanyaan etis yang serius di kalangan musisi dan penggemar.
Kesha, dengan ketegasan sikapnya, menggambarkan bagaimana para seniman memiliki tanggung jawab untuk melindungi karya mereka dari eksploitasi yang tidak pantas. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi ini, penting bagi seniman untuk bersuara dan menegaskan batasan-batasan mengenai penggunaan karya mereka.
Dalam konteks ini, kita dapat melihat bagaimana hubungan antara seni dan politik semakin kompleks. Ketika lagu-lagu yang seharusnya menjadi medium ekspresi digunakan dalam konteks yang merugikan, hal ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap reputasi dan integritas seorang artis.
Kesha dan banyak musisi lainnya menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam ketika karya mereka disalahgunakan. Dalam dunia yang sering kali dipenuhi dengan ketegangan dan konflik, suara mereka menjadi penting untuk menekankan pentingnya cinta dan empati di atas kebencian.
Dengan situasi ini, kita diingatkan akan kekuatan musik sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Lagu-lagu dapat menjadi sarana untuk menyatukan orang-orang dalam perjuangan untuk perdamaian, bukan untuk memecah belah mereka.
Keberanian Kesha untuk berbicara tentang isu ini adalah langkah yang patut dicontoh. Dalam menghadapi tantangan, diperlukan keberanian untuk mengekspresikan ketidakpuasan dan menuntut perubahan. Begitu juga, penting bagi publik untuk mendukung artis-artis yang berani mengambil sikap dan melindungi nilai-nilai yang mereka anut.
Di tengah kontroversi ini, penting bagi kita untuk terus menyaksikan bagaimana isu-isu semacam ini berkembang. Bagaimana pemerintah dan masyarakat akan merespons serta apa langkah selanjutnya dari Kesha dan musisi lainnya akan menjadi sorotan publik di masa mendatang.

