Istri Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Sara Netanyahu, menarik perhatian publik setelah mengklaim bahwa dirinya telah mengetahui rencana serangan Hamas yang terjadi pada 7 Oktober 2023. Dalam wawancara yang disiarkan oleh stasiun televisi kanan Israel, Channel 14, pada akhir Agustus lalu, Sara mengkritik mantan wakil kepala staf militer Israel, Yair Golan, yang kini memimpin Partai Demokrat.
Sara Netanyahu menyiratkan bahwa Golan memiliki pengetahuan tentang rencana serangan Hamas yang ditujukan ke wilayah selatan Israel. Ia mengklaim bahwa Golan sudah bersiap-siap dan mengenakan pakaian tempur pada dini hari saat serangan berlangsung, sementara banyak pihak lainnya, termasuk Perdana Menteri Netanyahu, tampak tidak menyadari situasi yang akan terjadi.
Pernyataan yang dilontarkan Sara ini menimbulkan beragam reaksi. Banyak warga Israel justru memberikan pujian kepada Golan atas tindakan heroiknya pada 7 Oktober, ketika ia secara tiba-tiba terjun ke lapangan untuk melawan serangan menggunakan senjata pribadinya.
Dalam perkembangan terbaru, Yair Golan mengonfirmasi bahwa ia telah mengajukan gugatan terhadap Sara Netanyahu, menuduhnya melakukan pencemaran nama baik dan menghasut kekerasan.
Dalam gugatannya, Golan menyatakan, “Teori-teori konspirasi ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari pikiran jahat orang-orang yang berusaha mengalihkan tanggung jawab atas bencana besar yang terjadi.” Pernyataan ini dikutip dari laporan yang dirilis oleh AFP pada 11 September 2026.
Dalam dokumen gugatan tersebut, Golan menuntut ganti rugi sebesar 2,5 juta shekel, yang setara dengan sekitar Rp 14,45 miliar. Selain itu, ia juga meminta agar Sara Netanyahu mencabut pernyataannya yang dianggap merugikan.
Gugatan ini diajukan di tengah kampanye pemilu Israel yang semakin intens. Suasana politik saat ini sangat terpecah, dan banyak masyarakat masih merasa trauma akibat serangan yang dianggap sebagai pembantaian terburuk dalam sejarah Israel.
Serangan pada 7 Oktober 2023 telah menjadi fokus utama dalam diskusi politik menjelang pemilu. Benjamin Netanyahu juga menghadapi tuduhan bahwa ia telah mengetahui informasi terkait rencana serangan tersebut sebelumnya.
Sebuah laporan yang muncul baru-baru ini, meskipun dibantah oleh Netanyahu, menuduh bahwa Perdana Menteri menerima peringatan dari Uni Emirat Arab mengenai rencana besar Hamas untuk menyerang Israel.
Serangan tersebut mengakibatkan kematian 1.221 orang, berdasarkan data resmi dari Israel yang dihimpun oleh AFP. Selain itu, para militan juga dilaporkan membawa sekitar 251 sandera ke Gaza, dengan 44 di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia.

