Jakarta – Masyarakat Indonesia umumnya sudah akrab dengan kegiatan donor darah. Namun, masih banyak yang belum menyadari adanya jenis donasi lain yang tidak kalah pentingnya dalam dunia kesehatan, yaitu donor plasma.
Plasma adalah salah satu komponen utama dalam darah yang berfungsi sebagai bahan baku untuk memproduksi Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Produk ini memiliki peranan vital dalam perawatan pasien yang mengalami berbagai kondisi medis, seperti gangguan perdarahan, imunodefisiensi, hingga masalah kesehatan yang disebabkan oleh rendahnya kadar albumin dalam tubuh.
Berbeda dengan obat-obatan yang dihasilkan secara sintetis, PODP diperoleh dari plasma manusia. Hal ini menandakan bahwa ketersediaan terapi ini sangat bergantung pada jumlah donor plasma serta sistem pengambilan dan pengolahan plasma yang harus dilakukan dengan aman dan efektif.
Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., MARS, yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengungkapkan bahwa penguatan ekosistem plasma memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak.
“Untuk memperkuat ekosistem plasma di Indonesia, diperlukan kerjasama antara pemerintah, institusi kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, para donor, serta industri terkait. International Plasma Awareness Week 2026 menjadi momentum yang sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong upaya kolaboratif tersebut,” tutur Dr. Lucia saat acara media gathering di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Plasma menyusun sekitar 55 persen dari volume darah yang ada dalam tubuh manusia.
Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., Subsp. B.D.K.T. (K), Subsp. K.V. (K), seorang ahli dalam bidang Bank Darah dan Kedokteran Transfusi, menjelaskan bahwa plasma merupakan komponen terbesar dalam darah.
“Plasma menyumbang sekitar 55 persen dari total volume darah. Di dalamnya terkandung berbagai protein penting, termasuk albumin, antibodi, dan faktor pembekuan. Produk-produk ini dapat diproses menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Berbeda dengan donor darah utuh, pengambilan plasma dilakukan dengan menggunakan alat apheresis, yang memungkinkan pemisahan plasma dari komponen darah lainnya, sementara komponen lainnya dikembalikan ke tubuh donor,” jelasnya.
“Plasma yang terkumpul ini dapat diolah menjadi berbagai produk terapi yang dapat membantu pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti hipoalbuminemia, gangguan perdarahan, dan imunodefisiensi. Oleh karena itu, pemahaman tentang plasma serta proses pengambilan plasma sangat penting, begitu juga dengan kontribusi para donor plasma yang berperan krusial dalam perjalanan perawatan pasien,” tambahnya.

