Jakarta – Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah kini mulai memberikan dampak signifikan pada sektor pangan global. Ketegangan yang terjadi antara AS, Israel, dan Iran telah memicu krisis baru di Asia Tenggara, yang berpotensi mengancam produksi beras, makanan pokok bagi miliaran manusia.
Ketidakstabilan di Selat Hormuz berdampak pada pasokan bahan bakar dan pupuk, sehingga banyak petani mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitas pertanian mereka. Jalur strategis ini merupakan rute vital untuk distribusi energi dan bahan baku pertanian ke seluruh kawasan Asia.
Di sejumlah negara di Asia Tenggara, jutaan petani kecil kini merasakan lonjakan biaya produksi yang signifikan. Kenaikan harga pupuk dan solar menciptakan tekanan finansial yang serius, dengan beberapa petani melaporkan peningkatan biaya hingga dua hingga tiga kali lipat.
Kondisi yang semakin sulit ini memaksa banyak petani untuk mempertimbangkan pengurangan produksi mereka, bahkan ada yang memilih untuk tidak menanam sama sekali.
Di Thailand, terdapat laporan bahwa sebagian petani membiarkan padi yang sudah siap panen tetap di sawah karena biaya untuk panen yang terlalu tinggi. Sementara di negara lain, beberapa petani terpaksa menunda musim tanam akibat ketidakpastian harga dan ketersediaan pasokan.
Patrick Davenport, Direktur BRM Agro di Kamboja, menggambarkan situasi yang semakin menekan para petani. “Banyak petani yang merasa panik. Sebagian besar terlibat dalam pertanian dan mereka semua tertekan,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang dilansir oleh The Business Times.
Krisis ini menjadi perhatian serius, mengingat beras adalah makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia. Selain itu, sektor pertanian juga merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat pedesaan di Asia Tenggara.
Meskipun biaya produksi mengalami kenaikan, harga beras secara global justru tetap berada pada tingkat yang relatif rendah. Harga acuan beras putih Thailand bahkan sempat mencapai titik terendah dalam satu dekade, yaitu di bawah US$400 per ton atau sekitar Rp6.800.000. Hal ini semakin mempersempit margin keuntungan bagi para petani.
Máximo Torero, seorang ekonom senior di Food and Agriculture Organization, mengingatkan tentang dampak yang lebih luas jika gangguan pasokan ini terus berlanjut. “Margin keuntungan sudah sangat tipis, dan ini berarti mereka akan mengurangi luas lahan yang ditanami,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlangsung selama 20 hingga 30 hari ke depan, dampaknya terhadap ketersediaan pangan bisa mulai dirasakan pada paruh kedua tahun ini. “Saya tidak melihat solusi lain, selain dibukanya kembali jalur tersebut,” jelasnya.

