Persaingan di sektor kendaraan listrik semakin ketat, mendorong berbagai produsen otomotif untuk mencari cara yang lebih efisien dalam mengembangkan mobil elektrifikasi.
Situasi ini membuka peluang kerja sama baru antara pabrikan otomotif dari Jepang dan Malaysia. Salah satu kolaborasi yang menarik perhatian adalah antara Daihatsu dan Perodua, dua perusahaan yang telah menjalin hubungan bisnis yang erat selama ini.
Pembicaraan mengenai kolaborasi dalam pengembangan kendaraan listrik antara kedua perusahaan kembali mencuat setelah Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Johari Abdul Ghani, bertemu dengan Wakil Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Takuo Komori.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas potensi kerja sama antara Daihatsu dan Perodua dalam menciptakan mobil listrik di Malaysia, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi industri otomotif di kawasan tersebut.
Meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai kerja sama ini, diskusi ini menjadi sangat menarik, terutama karena Perodua baru saja meluncurkan QV-E, mobil listrik yang sepenuhnya dikembangkan oleh mereka sendiri.
Berbeda dengan model-model Perodua sebelumnya, QV-E tidak menggunakan komponen dari Daihatsu. Mobil listrik ini sepenuhnya merupakan hasil pengembangan Perodua, karena Daihatsu saat ini belum memiliki model listrik yang dapat dijadikan dasar.
Selama lebih dari tiga dekade, Daihatsu dan Perodua telah menjalin hubungan yang sangat erat. Sebagai salah satu pemegang saham utama Perodua, Daihatsu telah menyediakan berbagai teknologi dan komponen untuk kendaraan yang dihasilkan oleh perusahaan Malaysia ini.
Bahkan, ada beberapa model Perodua yang menjadi dasar pengembangan kendaraan Daihatsu. Contohnya, Daihatsu Sirion di Indonesia yang memiliki hubungan yang kuat dengan Perodua Myvi yang dipasarkan di Malaysia.
Dengan latar belakang tersebut, sangat mungkin pola serupa dapat diterapkan pada pengembangan kendaraan listrik di masa depan.
Jika Daihatsu memutuskan untuk menggunakan QV-E sebagai dasar, mobil tersebut bisa dikembangkan menjadi produk dengan merek Daihatsu. Indonesia menjadi salah satu pasar yang sangat menarik untuk skenario ini, mengingat Daihatsu memiliki basis konsumen yang besar di negara ini.
Apalagi, pasar mobil listrik di Indonesia semakin kompetitif, dengan banyak merek asal China yang telah meluncurkan kendaraan listrik dengan harga yang semakin terjangkau.
Namun, keputusan untuk menggunakan QV-E sebagai platform oleh Daihatsu masih dalam tahap pembicaraan. Ada juga kemungkinan lain yang menarik, di mana Daihatsu dapat berperan dalam pengembangan model mobil listrik Perodua berikutnya.

