Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi mengenai suara dentuman yang terdengar di berbagai lokasi di Bandung Raya pada Jumat, 5 September hingga Sabtu pagi, 6 September 2026. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menegaskan bahwa suara dentuman tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi di Selat Sunda.
Suaidi Ahadi menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, yang bertepatan dengan munculnya suara dentuman di Bandung Raya, tidak menunjukkan adanya keterkaitan dengan fenomena yang terjadi.
Menurut Suaidi, suara dentuman yang terdengar di Kota Bandung terlalu jauh untuk dihubungkan dengan letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada waktu itu.
Ia menambahkan bahwa fenomena dentuman semacam ini dapat disebabkan oleh berbagai aktivitas geofisika, termasuk rangkaian gempa kecil (swarm earthquake), gempa yang disebabkan oleh aktivitas di area karst, atau gempa yang dihasilkan dari runtuhan.
Suaidi juga mengingatkan bahwa fenomena serupa pernah terjadi di wilayah Cianjur, termasuk saat gempa yang melanda daerah tersebut pada tahun 2025.
“Gempa-gempa kecil akibat runtuhan, swarm earthquake, serta gempa lainnya, dapat menghasilkan suara dentuman,” jelasnya.
Meskipun demikian, hasil pemantauan BMKG menunjukkan bahwa tidak ada rekaman gempa yang terjadi di kawasan Bandung Raya saat fenomena dentuman tersebut dilaporkan oleh masyarakat.
“Pada hari tersebut, kami mencatat tidak ada aktivitas gempa yang terdeteksi, baik di sesar aktif seperti Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun sesar lainnya di wilayah Bandung Raya,” ungkap Suaidi.
Menurut Suaidi, fenomena ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut dari para ahli di bidang geofisika, meteorologi, dan sains kebumian untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam.
“Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, namun terdapat literatur yang menyebutkan bahwa fenomena ini mungkin terkait dengan aktivitas gas metana yang ada di danau purba,” tutupnya.

